umlah penduduk di Indonesia memang tidak sebanyak di Cina yang hampir mencapai 1.3 miliar, namun sama saja di Indonesia juga mengalami peningkatan bahkan telah mencapai 200 juta orang lebih. Agung Laksono, Ketua DPR, menjelaskan bahwa sekarang ini jumlah penduduk di Indonesia mencapai 220 juta jiwa, dan diperkirakan akan terus meningkat hingga 247.5 juta orang di tahun 2015 dan mungkin bisa mencapai lebih dari 273 juta jiwa pada tahun 2025 mendatang.
Menurut Agung, pertumbuhan penduduk yang semakin pesat justru mungkin dapat menghambat pembangunan nasional. Hal ini disebabkan pertumbuhan penduduk sekitar 1.175% per tahun, dan angka tersebut masih sangat besar bila harus mengikuti tantangan kemajuan pembangunan di masa depan, tambahnya. Agung menambahkan bahwa dilihat dari pertumbuhan dari tahun ke tahun, maka penduduk Indonesia dimungkinkan akan memiliki masalah besar, terutama menyangkut kebutuhan pokok, sandang, pangan, papan, dan ketersediaan lapangan pekerjaan, pendidikan, juga kesehatan.
Untuk menghambat laju pertumbuhan penduduk di Indonesia yang semakin pesat, menurut Agung, maka program KB (Keluarga Berencana) harus lebih diperketat lagi seperti pada penggunaan program KB beberapa tahun yang lalu. Diharapkan, program KB dapat menjadi salah satu kunci sukses untuk menekan laju kependudukan, seperti waktu itu, tambahnya.
Agung menuturkan, permasalahan kependudukan ini harus segera ditangani, dan diharapkan semua pihak dapat ikut membantu menekan laju pertumbuhan penduduk dengan ber-KB. Agung menambahkan, jika masalah ini tidak segera ditangani, maka dikhawatirkan semakin banyak penduduk, maka semakin lambat dan mungkin dapat menghambat pembangunan.
Menyediakan Segala Pengetahuan Tentang Kependudukan dan Keluarga Berencana
Cari Blog Ini
Kamis, 20 Januari 2011
HARGANAS, PEMBANGUNAN PENDUDUK DAN KELUARGA BERENCANA
Di tengah gema program KB yang akhir-akhir ini terdengar makin sayup sayup saja, peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) XVI Tahun 2009 mengambil tema sentral “Dengan Semangat Harganas Kita Bangkitkan Pembangunan Kependudukan dan Keluarga Berencana” dengan motto “Melalui Keluarga Membangun Bangsa untuk Mencapai MDGs”. Dengan tema sentral tersebut, secara implisit kita dapat mengetahui bahwa peringatan Harganas tahun ini dipadukan dengan peringatan Hari Kependudukan Dunia (World population Day) dan International Conference on Population and Development (ICPD) + 15. Hal ini sangat muda dibaca dari tujuan peringatan itu sendiri, yakni: (1) Meningkatkan komitmen Pemerintah, Legislatif dan Yudikatif untuk melanjutkan dan mengembangkan pembangunan keluarga kecil bahagia sejahtera seperti yag diharapkan dalam pelaksanaan MDGs, (2) Meningkatkan kepedulian dan peran serta tokoh dan lembaga masyarakat untuk terus dan berkesinambungan peduli akan pelaksanaan program KB dalam upaya membangun keluarga kecil bahagia dan sejahtera, (3) Meningkatkan peran keluarga dalam pelaksanaan fungsi-fungsi keluarga sebagai dasar ketahanan keluarga yang tangguh, (4) Meningkatkan kesiapan keluarga dalam menghadapi permasalahan yang melingkupi kehidupan keluarga. dan (5) Meningkatkan pemahaman dan pelaksaaan hak-hak reproduksi untuk mempercepat pencapaian ICPD lima tahun mendatang.
Melalui tema dan moto tersebut, Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) sebagai pengampu program Keluarga Berencana (KB) berharap momentum Harganas menjadi momentum strategis untuk mengingatkan kita akan pentingnya keluarga sebagai wadah tumbuh kembangnya setiap anak bangsa, baik secara fisik, mental maupun moral, untuk menjadi manusia paripurna, bagi kepentingan keluarganya sendiri maupun kepentingan bangsa dan negara. Selain itu juga untuk meningkatkan komitmen kita bersama dalam melanjutkan dan mengembangkan pembangunan keluarga kecil bahagia dan sejahtera seperti yang diharapkan dalam pelaksanaan Millenium Development Goals (MDGs) sebagai upaya menekan angka kemiskinan/kelaparan, mengurangi kematian ibu dan anak, mempromosikan kesetaraan gender, serta mengatasi HIV/AIDS dan berbagai penyakit lainnya yang selama ini telah menggerogoti sendi sendi ketahanan sebuah keluarga, masyarakat dan bangsa.
Diakui atau tidak, tema dan motto Harganas yang digemakan tahun ini, memang sangat relevan dengan situasi sekarang. Apa pasal? Setidaknya ada dua alasan yang mendasarinya. Pertama, Pemerintah berkewajiban memantapkan pembangunan penduduk sebagai sumber daya insani yang dapat diandalkan untuk membangun bangsa. Hal ini perlu dilakukan dengan cara lebih serius dalam menangani persoalan pengelolaan penduduk. Misalnya dengan membentuk lembaga kependudukan. Lembaga kependudukan yang terbentuk nantinya harus sinergi dengan BKKBN yang memiliki strategi menekan laju pertumbuhan penduduk melalui program KB dan berorientasi pada penggunaan kontrasepsi modern. Sejarah membuktikan, tatkala persoalan penduduk dan keluarga menjadi prioritas garapan pemeritah dan ditangani secara sinergis oleh Kementerian Kependudukan bersama BKKBN dan dipegang oleh seorang Menteri Negara di era tahun 1990 an, permasalahan penduduk dan keluarga dengan segala karakteristiknya dapat dikondisikan sehingga tidak menghambat upaya pembangunan di segala bidang. Sementara itu, belakangan ini kita dihadapkan pada ancaman yang sangat nyata di depan mata kita yaitu “baby boom” tahap kedua.
Kedua, seiring dengan pemberlakuan otonomi daerah tampak sekali nafas program KB jauh mengendor dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Mengendornya nafas program KB perlu segera diantisipasi dengan memperkuat komitmen para kepala daerah dan stakeholders lainnya sebagai pembuat kebijakan di satu sisi, menambah jumlah Penyuluh KB untuk menggantikan yang mutasi/pensiun dan meningkatkan dukungan operasional di sisi lainnya. Para pengelola program KB juga harus berupaya memotivasi kader Intitusi Masyarakat Pedesaan (IMP) yang selama ini menjadi tulang punggung pengelolaan KB di lini lapangan seiring dengan berkurangnya intensitas pembinaan oleh Penyuluh KB karena keterbatasan personil. Karena bila tidak segera diantisipas, nafas program KB yang mengendor, akan membawa kecendurungan di banyak keluarga untuk mengabaikan Norma Keluarga Kecil Bahagia Sejahtera (NKKBS) sebagai norma hidup yang menjadi pegangan untuk mencapai cita-cita keluarga menuju kehidupan masa depan yang lebih baik.
Terlepas dari persoalan yang melingkupi, kita sangat menyadari bahwa penduduk ibarat dua sisi mata uang dengan pembangunan. Penduduk akan menjadi modal pembangunan yang dahsyat bila kualitasnya memadai. Sebaliknya, penduduk akan menjadi beban pembangunan yang tidak kalah dahsyatnya manakala kualitasnya rendah. Realitas ini mengandung makna apalah artinya memiliki jumlah penduduk yang besar bila kualitasnya rendah. Karena mereka akan menjadi “pemangsa” hasil-hasil pembangunan itu sendiri, lebih-lebih penduduk yang besar ini tanpa ada pengendalian laju pertumbuhannya. Sementara untuk mengendalikan laju pertumbuhan penduduk, hingga saat ini tiada metode atau cara yang efektif dan dapat dipertanggungjawabkan kecuali dengan mengintensifkan program KB. Tentang efektivitas program KB dalam rangka pengendalian jumlah penduduk, telah diakui oleh bangsa-bangsa di dunia. Hal ini dapat dirunut dari sejarah pertumbuhan penduduk dunia yang awalnya begitu cepat sebelum adanya program KB, menjadi jauh lebih lambat setelah program KB dijalankan oleh banyak negara.
Dilihat dari sisi sejarah, pertumbuhan penduduk dunia yang pesat terjadi semenjak revolusi industri di Inggris menjelang tahun 1750. Sejak saat itu perkembangan penduduk dunia dari abad ke abad menunjukkan pertumbuhan semakin cepat. Jika pada abad ke-17 jumlah penduduk dunia 623 juta jiwa, satu abad kemudian jumlah penduduk menjadi 906 juta, dan pada abad ke-19 telah membengkak menjadi 1.608 juta jiwa. Lebih mengejutkan lagi menurut catatan Demographic Yearbook and Reference Bureu Inc., pada tahun 1950 telah menunjukkan jumlah 2.509 juta jiwa yang berarti hampir 2 kali lipat. Bahkan pada tahun 1965 jumlah penduduk dunia telah menjadi lebih dari 3 milyar jiwa.
Namun semenjak dekade 1965 dan 1975 dengan dijalankannya program KB hampir di seluruh negara, penurunan dari kesuburan penduduk ini cukup mengagetkan. Turunnya jumlah penduduk dari yang semestinya ternyata telah menjadi kecenderungan baik di negara yang telah maju maupun sedang berkembang. Dalam artikel yang pernah dtulis oleh Donald J. Bogue dan Amy Ong T’sui dalam majalah The Public Interest, disebutkan bahwa selama 7 tahun saja, yakni dari tahun 1968 hingga 1975 angka kesuburan total dunia telah turun sebesar 12 persen yakni dari Total Fertilty Rate (TFR) sebesar 4,635 menjadi 4,068) yang berarti setiap keluarga bertambah kecil 0,5 anak. Besar perubahan ini tidak sama di setiap negara, tetapi kebanyakan negara-negara di benua Afrika mencatat jumlah penurunan yang meyakinkan, dan menunjukkan gejala semakin nyata untuk masa-masa mendatang. Atas dasar itu, mereka berani meramalkan bahwa pada tahun 2025 nanti penduduk dunia hampir tidak bertambah lagi.
Di Indonesia sendiri, selama kurun waktu 39 tahun, sejak dicanangkan pemerintah sebagai salah satu prioritas program pembangunan pada tahun 1970, program KB mampu menekan Total Fertility Rate (TFR) lebih dari setengah dari kondisi pada awal program. Jika pada tahun 1970 lalu TFR masih sebesar 5,6 anak, maka kini sudah turun menjadi 2,6 per ibu. Penurunan TFR ini telah menyebabkan laju pertumbuhan penduduk turun dari 2,3 per tahun menjadi 1,39 persen pada saat sekarang. TFR sendiri merupakan jumlah rata-rata anak yang dilahirkan oleh seorang Wanita Usia Subur (WUS) selama masa suburnya.
Seiring dengan penurunan TFR karena keberhasilan pemerintah dalam menggalakkan program KB di masyarakat, Indonesia selama kurun waktu 1970 – 2000 telah mampu menekan kelahiran sekitar 80 juta jiwa. Buah dari kerja keras yang fantastis! Besarnya jumlah kelahiran yang dapat ditekan ini, bisa dirunut dari pernyataan Prof. Dr. Widjojo Nitisastro sebagai Ketua Bappenas pada saat Repelita I dirumuskan. Beliau memprediksi, jumlah penduduk Indonesia di tahun 2000 diperkirakan mencapai 280 juta jiwa dengan angka pertumbuhan yang begitu tinggi. Namun berkat program KB yang ditangani secara serius, pada tahun 2000 jumlah penduduk Indonesia dapat ditekan menjadi ”hanya 200 juta” dengan laju pertumbuhan penduduk yang relatif rendah.
Yang kemudian menjadi pemikiran kita adalah bagaimana mengkondisikan penduduk itu agar berada dalam kondisi sehat dan berkualitas sekaligus menjadi sumber daya manusia yang potensial untuk mendukung pembangunan. Sekarang ini penduduk kita telah mencapai angka sekitar 230 juta jiwa. Namun dari jumlah tersebut, menurut catatan Badan Pusat Statistik (2008) tidak kurang dari 35 juta penduduk berada dalam garis kemiskinan. Sementara hasil Pendataan Keluarga Tahun 2007 yang dilakukan oleh BKKBN menunjukkan bahwa 46,7 persen dari 57,5 juta keluarga di Indonesia berada dalam kondisi Pra Sejahtera dan Keluarga Sejahtera (KS) I. Ini berarti, tugas berat terkait upaya pemberdayaan penduduk dan keluarga di negara kita harus segera dituntaskan agar tidak menjadi beban pembangunan mengingat dimensi kualitas selalu menjadi persoalan yang menggelayuti bangsa kita. Terlebih dilihat dari Human Development Indeks (HDI), posisi Indonesia saat ini terbilang masih sangat rendah, yakni pada posisi 107 dari 177 negara di dunia. Kondisi tersebut jelas sangat memprihatinkan dan memerlukan perhatian serta penanganan yang seksama, sungguh dan berkelanjutan.
Pembangunan penduduk dan keluarga, seiring dengan upaya mewujudkan target MDGs di Indonesia, patut didukung bersama. Apalagi dalam rangka mengendalian kuantitas dan peningkatan kualitas penduduk, bangsa kita telah cukup lama menerapkan konsep pembangunan berwawasan kependudukan (people centered development) dan pembangunan pemberdayaan keluarga (family centered development). Dengan konsep pembangunan berwawasan kependudukan, penduduk dilihat secara utuh dengan lima matranya, yaitu sebagai diri pribadi yang unik, sebagai anggota keluarga, sebagai anggota masyarakat, sebagai warga negara dan sebagai himpunan kuantitas. Sementara dengan konsep pembangunan keluarga, keluarga dipandang sebagai wahana strategis dalam pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) potensial yang akan melahirkan manusia-manusia pembangunan yang handal di segala bidang. Logikanya, keluarga sebagai unit terkecil dalam masyarakat memiliki peran yang demikian penting dalam menentukan kualitas SDM secara umum, mengingat keluarga merupakan lingkungan yang pertama dan pertama bagi setiap individu. Karenanya, untuk mewujudkan SDM yang potensial, peran keluarga sangatlah urgen.
Tentang target MDGs sendiri, setidaknya terdapat 21 target kuantitatif yang dapat diukur oleh 60 indikator. Ke-21 target tersebut terangkum dalam 8 tujuan pembangunan milenium, yakni: (1) Memberantas kemiskinan ekstrim dan kelaparan, (2) Dicapainya pendidikan tingkat dasar yang merata dan universal, (3) Memajukan kesetaraan gender, (4) Mengurangi tingkat mortalitas anak, (5) Memperbaiki kualitas kesehatan ibu hamil, (6) Memerangi HIV/AIDS, malaria dan penyakit lain, (7) Menjamin kelestarian lingkungan dan (8) Menjalin kerjasama global bagi perkembangan kesejahteraan. Tujuan pembangunan milenium adalah sebagai respon atas permasalahan perkembangan global, yang kesemuanya harus tercapai pada tahun 2015. Tujuan Pembangunan Milenium adalah hasil dari aksi yang terkandung dalam Deklarasi Milenium yang diadopsi oleh 189 negara dan ditandatangani oleh 147 kepala negara dan pemerintahan pada UN Millennium Summit yang diadakan di New York, Amerika Serikat pada bulan September tahun 2000.
Dengan demikian, tepatlah kiranya bila melalui peringatan Harganas XVI Tahun 2009 ini kita bangkitkan kembali semangat pembangunan kependudukan dan KB sebagai bagian dari upaya mewujudkan keluarga, masyarakat, dan bangsa yang sejahtera dan mandiri. Terlebih pembangunan kependudukan dan KB telah menjadi prioritas di banyak negara berkembang yang ingin bergerak menjadi negara yang memiliki ketahanan tinggi dalam segala aspek kehidupannya. Melalui pemaduan peringatan Harganas dengan Hari Kependudukan Dunia dan peringatan International Conference on Population and Development (ICPD) + 15 tahun 2009, kita tentu berharap penyelenggaraan peringatan Harganas tahun ini akan memiliki daya ungkit yang besar dalam meningkatkan komitmen bersama sekaligus menggelorakan semangat pemerintah dan segenap komponen bangsa untuk membangun penduduk dan keluarga melalui upaya revitalisasi yang efektif. Semoga semua harapan itu terkabul. Amiin.
Melalui tema dan moto tersebut, Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) sebagai pengampu program Keluarga Berencana (KB) berharap momentum Harganas menjadi momentum strategis untuk mengingatkan kita akan pentingnya keluarga sebagai wadah tumbuh kembangnya setiap anak bangsa, baik secara fisik, mental maupun moral, untuk menjadi manusia paripurna, bagi kepentingan keluarganya sendiri maupun kepentingan bangsa dan negara. Selain itu juga untuk meningkatkan komitmen kita bersama dalam melanjutkan dan mengembangkan pembangunan keluarga kecil bahagia dan sejahtera seperti yang diharapkan dalam pelaksanaan Millenium Development Goals (MDGs) sebagai upaya menekan angka kemiskinan/kelaparan, mengurangi kematian ibu dan anak, mempromosikan kesetaraan gender, serta mengatasi HIV/AIDS dan berbagai penyakit lainnya yang selama ini telah menggerogoti sendi sendi ketahanan sebuah keluarga, masyarakat dan bangsa.
Diakui atau tidak, tema dan motto Harganas yang digemakan tahun ini, memang sangat relevan dengan situasi sekarang. Apa pasal? Setidaknya ada dua alasan yang mendasarinya. Pertama, Pemerintah berkewajiban memantapkan pembangunan penduduk sebagai sumber daya insani yang dapat diandalkan untuk membangun bangsa. Hal ini perlu dilakukan dengan cara lebih serius dalam menangani persoalan pengelolaan penduduk. Misalnya dengan membentuk lembaga kependudukan. Lembaga kependudukan yang terbentuk nantinya harus sinergi dengan BKKBN yang memiliki strategi menekan laju pertumbuhan penduduk melalui program KB dan berorientasi pada penggunaan kontrasepsi modern. Sejarah membuktikan, tatkala persoalan penduduk dan keluarga menjadi prioritas garapan pemeritah dan ditangani secara sinergis oleh Kementerian Kependudukan bersama BKKBN dan dipegang oleh seorang Menteri Negara di era tahun 1990 an, permasalahan penduduk dan keluarga dengan segala karakteristiknya dapat dikondisikan sehingga tidak menghambat upaya pembangunan di segala bidang. Sementara itu, belakangan ini kita dihadapkan pada ancaman yang sangat nyata di depan mata kita yaitu “baby boom” tahap kedua.
Kedua, seiring dengan pemberlakuan otonomi daerah tampak sekali nafas program KB jauh mengendor dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Mengendornya nafas program KB perlu segera diantisipasi dengan memperkuat komitmen para kepala daerah dan stakeholders lainnya sebagai pembuat kebijakan di satu sisi, menambah jumlah Penyuluh KB untuk menggantikan yang mutasi/pensiun dan meningkatkan dukungan operasional di sisi lainnya. Para pengelola program KB juga harus berupaya memotivasi kader Intitusi Masyarakat Pedesaan (IMP) yang selama ini menjadi tulang punggung pengelolaan KB di lini lapangan seiring dengan berkurangnya intensitas pembinaan oleh Penyuluh KB karena keterbatasan personil. Karena bila tidak segera diantisipas, nafas program KB yang mengendor, akan membawa kecendurungan di banyak keluarga untuk mengabaikan Norma Keluarga Kecil Bahagia Sejahtera (NKKBS) sebagai norma hidup yang menjadi pegangan untuk mencapai cita-cita keluarga menuju kehidupan masa depan yang lebih baik.
Terlepas dari persoalan yang melingkupi, kita sangat menyadari bahwa penduduk ibarat dua sisi mata uang dengan pembangunan. Penduduk akan menjadi modal pembangunan yang dahsyat bila kualitasnya memadai. Sebaliknya, penduduk akan menjadi beban pembangunan yang tidak kalah dahsyatnya manakala kualitasnya rendah. Realitas ini mengandung makna apalah artinya memiliki jumlah penduduk yang besar bila kualitasnya rendah. Karena mereka akan menjadi “pemangsa” hasil-hasil pembangunan itu sendiri, lebih-lebih penduduk yang besar ini tanpa ada pengendalian laju pertumbuhannya. Sementara untuk mengendalikan laju pertumbuhan penduduk, hingga saat ini tiada metode atau cara yang efektif dan dapat dipertanggungjawabkan kecuali dengan mengintensifkan program KB. Tentang efektivitas program KB dalam rangka pengendalian jumlah penduduk, telah diakui oleh bangsa-bangsa di dunia. Hal ini dapat dirunut dari sejarah pertumbuhan penduduk dunia yang awalnya begitu cepat sebelum adanya program KB, menjadi jauh lebih lambat setelah program KB dijalankan oleh banyak negara.
Dilihat dari sisi sejarah, pertumbuhan penduduk dunia yang pesat terjadi semenjak revolusi industri di Inggris menjelang tahun 1750. Sejak saat itu perkembangan penduduk dunia dari abad ke abad menunjukkan pertumbuhan semakin cepat. Jika pada abad ke-17 jumlah penduduk dunia 623 juta jiwa, satu abad kemudian jumlah penduduk menjadi 906 juta, dan pada abad ke-19 telah membengkak menjadi 1.608 juta jiwa. Lebih mengejutkan lagi menurut catatan Demographic Yearbook and Reference Bureu Inc., pada tahun 1950 telah menunjukkan jumlah 2.509 juta jiwa yang berarti hampir 2 kali lipat. Bahkan pada tahun 1965 jumlah penduduk dunia telah menjadi lebih dari 3 milyar jiwa.
Namun semenjak dekade 1965 dan 1975 dengan dijalankannya program KB hampir di seluruh negara, penurunan dari kesuburan penduduk ini cukup mengagetkan. Turunnya jumlah penduduk dari yang semestinya ternyata telah menjadi kecenderungan baik di negara yang telah maju maupun sedang berkembang. Dalam artikel yang pernah dtulis oleh Donald J. Bogue dan Amy Ong T’sui dalam majalah The Public Interest, disebutkan bahwa selama 7 tahun saja, yakni dari tahun 1968 hingga 1975 angka kesuburan total dunia telah turun sebesar 12 persen yakni dari Total Fertilty Rate (TFR) sebesar 4,635 menjadi 4,068) yang berarti setiap keluarga bertambah kecil 0,5 anak. Besar perubahan ini tidak sama di setiap negara, tetapi kebanyakan negara-negara di benua Afrika mencatat jumlah penurunan yang meyakinkan, dan menunjukkan gejala semakin nyata untuk masa-masa mendatang. Atas dasar itu, mereka berani meramalkan bahwa pada tahun 2025 nanti penduduk dunia hampir tidak bertambah lagi.
Di Indonesia sendiri, selama kurun waktu 39 tahun, sejak dicanangkan pemerintah sebagai salah satu prioritas program pembangunan pada tahun 1970, program KB mampu menekan Total Fertility Rate (TFR) lebih dari setengah dari kondisi pada awal program. Jika pada tahun 1970 lalu TFR masih sebesar 5,6 anak, maka kini sudah turun menjadi 2,6 per ibu. Penurunan TFR ini telah menyebabkan laju pertumbuhan penduduk turun dari 2,3 per tahun menjadi 1,39 persen pada saat sekarang. TFR sendiri merupakan jumlah rata-rata anak yang dilahirkan oleh seorang Wanita Usia Subur (WUS) selama masa suburnya.
Seiring dengan penurunan TFR karena keberhasilan pemerintah dalam menggalakkan program KB di masyarakat, Indonesia selama kurun waktu 1970 – 2000 telah mampu menekan kelahiran sekitar 80 juta jiwa. Buah dari kerja keras yang fantastis! Besarnya jumlah kelahiran yang dapat ditekan ini, bisa dirunut dari pernyataan Prof. Dr. Widjojo Nitisastro sebagai Ketua Bappenas pada saat Repelita I dirumuskan. Beliau memprediksi, jumlah penduduk Indonesia di tahun 2000 diperkirakan mencapai 280 juta jiwa dengan angka pertumbuhan yang begitu tinggi. Namun berkat program KB yang ditangani secara serius, pada tahun 2000 jumlah penduduk Indonesia dapat ditekan menjadi ”hanya 200 juta” dengan laju pertumbuhan penduduk yang relatif rendah.
Yang kemudian menjadi pemikiran kita adalah bagaimana mengkondisikan penduduk itu agar berada dalam kondisi sehat dan berkualitas sekaligus menjadi sumber daya manusia yang potensial untuk mendukung pembangunan. Sekarang ini penduduk kita telah mencapai angka sekitar 230 juta jiwa. Namun dari jumlah tersebut, menurut catatan Badan Pusat Statistik (2008) tidak kurang dari 35 juta penduduk berada dalam garis kemiskinan. Sementara hasil Pendataan Keluarga Tahun 2007 yang dilakukan oleh BKKBN menunjukkan bahwa 46,7 persen dari 57,5 juta keluarga di Indonesia berada dalam kondisi Pra Sejahtera dan Keluarga Sejahtera (KS) I. Ini berarti, tugas berat terkait upaya pemberdayaan penduduk dan keluarga di negara kita harus segera dituntaskan agar tidak menjadi beban pembangunan mengingat dimensi kualitas selalu menjadi persoalan yang menggelayuti bangsa kita. Terlebih dilihat dari Human Development Indeks (HDI), posisi Indonesia saat ini terbilang masih sangat rendah, yakni pada posisi 107 dari 177 negara di dunia. Kondisi tersebut jelas sangat memprihatinkan dan memerlukan perhatian serta penanganan yang seksama, sungguh dan berkelanjutan.
Pembangunan penduduk dan keluarga, seiring dengan upaya mewujudkan target MDGs di Indonesia, patut didukung bersama. Apalagi dalam rangka mengendalian kuantitas dan peningkatan kualitas penduduk, bangsa kita telah cukup lama menerapkan konsep pembangunan berwawasan kependudukan (people centered development) dan pembangunan pemberdayaan keluarga (family centered development). Dengan konsep pembangunan berwawasan kependudukan, penduduk dilihat secara utuh dengan lima matranya, yaitu sebagai diri pribadi yang unik, sebagai anggota keluarga, sebagai anggota masyarakat, sebagai warga negara dan sebagai himpunan kuantitas. Sementara dengan konsep pembangunan keluarga, keluarga dipandang sebagai wahana strategis dalam pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) potensial yang akan melahirkan manusia-manusia pembangunan yang handal di segala bidang. Logikanya, keluarga sebagai unit terkecil dalam masyarakat memiliki peran yang demikian penting dalam menentukan kualitas SDM secara umum, mengingat keluarga merupakan lingkungan yang pertama dan pertama bagi setiap individu. Karenanya, untuk mewujudkan SDM yang potensial, peran keluarga sangatlah urgen.
Tentang target MDGs sendiri, setidaknya terdapat 21 target kuantitatif yang dapat diukur oleh 60 indikator. Ke-21 target tersebut terangkum dalam 8 tujuan pembangunan milenium, yakni: (1) Memberantas kemiskinan ekstrim dan kelaparan, (2) Dicapainya pendidikan tingkat dasar yang merata dan universal, (3) Memajukan kesetaraan gender, (4) Mengurangi tingkat mortalitas anak, (5) Memperbaiki kualitas kesehatan ibu hamil, (6) Memerangi HIV/AIDS, malaria dan penyakit lain, (7) Menjamin kelestarian lingkungan dan (8) Menjalin kerjasama global bagi perkembangan kesejahteraan. Tujuan pembangunan milenium adalah sebagai respon atas permasalahan perkembangan global, yang kesemuanya harus tercapai pada tahun 2015. Tujuan Pembangunan Milenium adalah hasil dari aksi yang terkandung dalam Deklarasi Milenium yang diadopsi oleh 189 negara dan ditandatangani oleh 147 kepala negara dan pemerintahan pada UN Millennium Summit yang diadakan di New York, Amerika Serikat pada bulan September tahun 2000.
Dengan demikian, tepatlah kiranya bila melalui peringatan Harganas XVI Tahun 2009 ini kita bangkitkan kembali semangat pembangunan kependudukan dan KB sebagai bagian dari upaya mewujudkan keluarga, masyarakat, dan bangsa yang sejahtera dan mandiri. Terlebih pembangunan kependudukan dan KB telah menjadi prioritas di banyak negara berkembang yang ingin bergerak menjadi negara yang memiliki ketahanan tinggi dalam segala aspek kehidupannya. Melalui pemaduan peringatan Harganas dengan Hari Kependudukan Dunia dan peringatan International Conference on Population and Development (ICPD) + 15 tahun 2009, kita tentu berharap penyelenggaraan peringatan Harganas tahun ini akan memiliki daya ungkit yang besar dalam meningkatkan komitmen bersama sekaligus menggelorakan semangat pemerintah dan segenap komponen bangsa untuk membangun penduduk dan keluarga melalui upaya revitalisasi yang efektif. Semoga semua harapan itu terkabul. Amiin.
GENRE versi REKA
Pada suatu hari, sepasang kekasih (sebut saja Barbara dan Yansen) yang masih berusia belasan tahun, masih memakai seragam putih abu-abu dan kehidupannya masih dibiayai orang tua sedang menghadapi kenyataan yang saaaangat tidak diinginkan. Si perempuan wajahnya pucat karena panik, si lelaki wajahnya merah karena marah :
Barbara :“sayaang, aku…”
Yansen :”kamu kenapa?”
Barbara :“enggg…”
Yansen :“apaa??”
Barbara :“aku udah telat 3 bulan, sayaang!”
Yansen :“telat apa? Telat bayar sekolah? Emangnya uang SPP kamu pake buat apaan? Mintalah sana sama nyokap bokap lagi!”
Barbara :“Bukaaaannn… Bukaan uang SPP, SAYAAAAAANGGG!!!”
Yansen :“ya terus, apaan dong?”
Barbara :“AKU UDAH NGGAK HAID SELAMA 3 BULAAN, MALIIH!!”
Yansen :“ha? Kok bisa?”
Barbara :“kok bisa, kok bisa? Yaa bisalaaaahhh… Aku positif hamiilll! HUAAAAAA”
Yansen : “HAAHHHHHH??!! I-ITU BENERAN ANAK GW?? Bukan kali, bukan aku yang hamilin kamu. Kamu selingkuh yaa?”
Barbara :“ENGGAK, enak aja! Aku berhubungan Cuma sama kamu doang!! Terus gimanaa??”
Yansen :“???? (tapi, hebat juga gw yak? baru dua kali gituan langsung tokcer)”
Hoii… Mikir dulu makanya sebelum bertindak, masih pakai baju putih abu-abu, di dalam Konvensi Hak Anak (KHA) masih dianggep anak, udah memproduksi anak. Mau dibawa kemana anak kalian nantinya? (macam lagu Armada saja). Memangnya jalan hidup cuma sebatas nafsu?
Menikah di usia muda? Hmm… kayaknya mesti di pikir mateng-mateng deh. Apalagi menikah dini disertai dengan hamil di luar nikah. Sebagian orang mengatakan, “teruus? Masih bermasalah sama hamil di luar nikah?? Hari giniiiii??” tapi kenyataannya? Masih banyak (banget) yang belum siap lahir batin kan? Akhirnya, pernikahan hanya di dasari oleh “keterpaksaan” karena tanggung jawab yang “sudah terlanjur basah”. Darah muda, darah yang menggebu-gebu, rasa keingin tahuan tinggi, nafsu yang masih membara, tetapi harus mikir juga bagaimana menata masa depan.
Maka dari itu, ikuti langkah bijak program GenRe dari BKKBN! Oke, BKKBN atau Badan Kordinasi Keluarga Berencana Nasional memang mengeluarkan program Generasi beRencana (yang iklannya si dua co-model Keong Racun, Sinta sama Jojo) di mana isi programnya yaitu menata perencanaan kehidupan berkeluarga yang layak agar tidak terjerumus ke dalam pernikahan dini maupun seks luar nikah di kalangan remaja. Program GenRe sendiri bertujuan untuk membuat para pemuda menjadi generasi yang merencanakan masa depannya dengan baik melalui studi, bekerja, menikah dan seterusnya, sesuai siklus kesehatan reproduksi. (sumber : BKKBN.go.id)
Itu penjelasan GenRe versi BKKBN. Terus sekarang apa? Naah, sekarang kita akan membahas GenRe versi Reka Agni Maharani. GenRe di sini artinya “Generasi okE versi REka dengan tujuan BKKBN alias “Buat Kita Kita Berkeluarga Nanti ”. Tenang, isinya tidak menyesatkan, kok. Malahan propaganda yang positif.
Apa saja sih isi GenRe-BKKBN versi Reka?
Untuk perempuan :
1. Minimal lulus kuliah dulu, biar punya pendidikan dan ilmu pengetahuan yang cukup. Mengasuh anak itu juga perlu keterampilan, lho! Jadilah ibu yang cerdas agar menghasilkan keturunan yang cerdas pula
2. Usia diatas 20 tahun, idealnya antara usia 24 sampai 26. Hal tersebut dikarenakan : pertama dari sisi biologis, usia perempuan antara 23 sampai 26 tahun adalah masa subur dan masa fertilisasi yang baik untuk janin. Kedua, dari sisi usia pun memang sangat ideal, karena dalam psikologi usia 23 ke atas (30 tahun) adalah usia perempuan menuju masa dewasa akhir
3. Setidaknya mempunyai keterampilan yang bisa menjadi bekal kita nanti dalam mencari uang tambahan. Nggak mau dong terus-terusan menadah suami? Kita harus bisa cerdas dengan mendapatkan penghasilan sendiri dan itu merupakan achievement yang positif lho! Seenggaknya, kalau anak kita nanti tumbuh besar, kita bisa ngasih uang jajan ekstra buat mereka.
4. Kalau kita sudah merasa siap mempunyai anak, kita nggak akan terbebani. Maka dari itu, coba buat program sendiri dan atur segalanya. Dari mulai persiapan dana sebelum melahirkan maupun dana untuk masa depan anak kita nanti.
Untuk Laki-laki :
1. Minimal sudah berpenghasilan. Walaupun bagaimanapun, tugas laki-laki di dalam keluarga adalah menafkahi keluarganya. Walaupun belum mapan, seenggaknya punya prospek dan siap untuk bekal masa depan anak kelak
2. Usia antara 25 sampai 30. Itu idealnya, karena fertilisasi dan masa subur pria memang sedang “oke” di usia segitu. Tetapi, karena pria tidak mengalami menophause jadi sampai kapanpun mereka masih bisa menghasilkan sperma tetapi mungkin kekuatannya sudah tidak sehebat usia tersebut (kalo itu lebih lanjut tanya Mbak ML, hehehe)
3. Punya tabungan. Namanya hamil dan mempunyai anak itu butuh banyak biaya. Belum biaya bersalin, operasional tetek bengeknya, susu, popok, dan keperluan lain per bulannya. Paling tidak, sudah ada persiapan lahir maupun batin lah biar anak kita pun bisa sejahtera.
Kira-kira itulah Generasi okE versi REka dengan tujuan Buat Kita Kita Berkeluarga Nanti. Tidak mau kan nasib kita sama seperti si Barbara dan Yansen? Semoga masukan-masukan ini berkenan di hati para kompasianer.
INGAT!!! ANAK HASIL HUBUNGAN DI LUAR NIKAH ITU BUKANLAH ANAK HARAM!!! TIDAK ADA YANG NAMANYA ANAK HARAM KARENA SETIAP ANAK LAHIR SUCI…
sumber : http://kesehatan.kompasiana.com/ibu-dan-anak/2010/11/02/genre-bkkbn-versi-reka/
Barbara :“sayaang, aku…”
Yansen :”kamu kenapa?”
Barbara :“enggg…”
Yansen :“apaa??”
Barbara :“aku udah telat 3 bulan, sayaang!”
Yansen :“telat apa? Telat bayar sekolah? Emangnya uang SPP kamu pake buat apaan? Mintalah sana sama nyokap bokap lagi!”
Barbara :“Bukaaaannn… Bukaan uang SPP, SAYAAAAAANGGG!!!”
Yansen :“ya terus, apaan dong?”
Barbara :“AKU UDAH NGGAK HAID SELAMA 3 BULAAN, MALIIH!!”
Yansen :“ha? Kok bisa?”
Barbara :“kok bisa, kok bisa? Yaa bisalaaaahhh… Aku positif hamiilll! HUAAAAAA”
Yansen : “HAAHHHHHH??!! I-ITU BENERAN ANAK GW?? Bukan kali, bukan aku yang hamilin kamu. Kamu selingkuh yaa?”
Barbara :“ENGGAK, enak aja! Aku berhubungan Cuma sama kamu doang!! Terus gimanaa??”
Yansen :“???? (tapi, hebat juga gw yak? baru dua kali gituan langsung tokcer)”
Hoii… Mikir dulu makanya sebelum bertindak, masih pakai baju putih abu-abu, di dalam Konvensi Hak Anak (KHA) masih dianggep anak, udah memproduksi anak. Mau dibawa kemana anak kalian nantinya? (macam lagu Armada saja). Memangnya jalan hidup cuma sebatas nafsu?
Menikah di usia muda? Hmm… kayaknya mesti di pikir mateng-mateng deh. Apalagi menikah dini disertai dengan hamil di luar nikah. Sebagian orang mengatakan, “teruus? Masih bermasalah sama hamil di luar nikah?? Hari giniiiii??” tapi kenyataannya? Masih banyak (banget) yang belum siap lahir batin kan? Akhirnya, pernikahan hanya di dasari oleh “keterpaksaan” karena tanggung jawab yang “sudah terlanjur basah”. Darah muda, darah yang menggebu-gebu, rasa keingin tahuan tinggi, nafsu yang masih membara, tetapi harus mikir juga bagaimana menata masa depan.
Maka dari itu, ikuti langkah bijak program GenRe dari BKKBN! Oke, BKKBN atau Badan Kordinasi Keluarga Berencana Nasional memang mengeluarkan program Generasi beRencana (yang iklannya si dua co-model Keong Racun, Sinta sama Jojo) di mana isi programnya yaitu menata perencanaan kehidupan berkeluarga yang layak agar tidak terjerumus ke dalam pernikahan dini maupun seks luar nikah di kalangan remaja. Program GenRe sendiri bertujuan untuk membuat para pemuda menjadi generasi yang merencanakan masa depannya dengan baik melalui studi, bekerja, menikah dan seterusnya, sesuai siklus kesehatan reproduksi. (sumber : BKKBN.go.id)
Itu penjelasan GenRe versi BKKBN. Terus sekarang apa? Naah, sekarang kita akan membahas GenRe versi Reka Agni Maharani. GenRe di sini artinya “Generasi okE versi REka dengan tujuan BKKBN alias “Buat Kita Kita Berkeluarga Nanti ”. Tenang, isinya tidak menyesatkan, kok. Malahan propaganda yang positif.
Apa saja sih isi GenRe-BKKBN versi Reka?
Untuk perempuan :
1. Minimal lulus kuliah dulu, biar punya pendidikan dan ilmu pengetahuan yang cukup. Mengasuh anak itu juga perlu keterampilan, lho! Jadilah ibu yang cerdas agar menghasilkan keturunan yang cerdas pula
2. Usia diatas 20 tahun, idealnya antara usia 24 sampai 26. Hal tersebut dikarenakan : pertama dari sisi biologis, usia perempuan antara 23 sampai 26 tahun adalah masa subur dan masa fertilisasi yang baik untuk janin. Kedua, dari sisi usia pun memang sangat ideal, karena dalam psikologi usia 23 ke atas (30 tahun) adalah usia perempuan menuju masa dewasa akhir
3. Setidaknya mempunyai keterampilan yang bisa menjadi bekal kita nanti dalam mencari uang tambahan. Nggak mau dong terus-terusan menadah suami? Kita harus bisa cerdas dengan mendapatkan penghasilan sendiri dan itu merupakan achievement yang positif lho! Seenggaknya, kalau anak kita nanti tumbuh besar, kita bisa ngasih uang jajan ekstra buat mereka.
4. Kalau kita sudah merasa siap mempunyai anak, kita nggak akan terbebani. Maka dari itu, coba buat program sendiri dan atur segalanya. Dari mulai persiapan dana sebelum melahirkan maupun dana untuk masa depan anak kita nanti.
Untuk Laki-laki :
1. Minimal sudah berpenghasilan. Walaupun bagaimanapun, tugas laki-laki di dalam keluarga adalah menafkahi keluarganya. Walaupun belum mapan, seenggaknya punya prospek dan siap untuk bekal masa depan anak kelak
2. Usia antara 25 sampai 30. Itu idealnya, karena fertilisasi dan masa subur pria memang sedang “oke” di usia segitu. Tetapi, karena pria tidak mengalami menophause jadi sampai kapanpun mereka masih bisa menghasilkan sperma tetapi mungkin kekuatannya sudah tidak sehebat usia tersebut (kalo itu lebih lanjut tanya Mbak ML, hehehe)
3. Punya tabungan. Namanya hamil dan mempunyai anak itu butuh banyak biaya. Belum biaya bersalin, operasional tetek bengeknya, susu, popok, dan keperluan lain per bulannya. Paling tidak, sudah ada persiapan lahir maupun batin lah biar anak kita pun bisa sejahtera.
Kira-kira itulah Generasi okE versi REka dengan tujuan Buat Kita Kita Berkeluarga Nanti. Tidak mau kan nasib kita sama seperti si Barbara dan Yansen? Semoga masukan-masukan ini berkenan di hati para kompasianer.
INGAT!!! ANAK HASIL HUBUNGAN DI LUAR NIKAH ITU BUKANLAH ANAK HARAM!!! TIDAK ADA YANG NAMANYA ANAK HARAM KARENA SETIAP ANAK LAHIR SUCI…
sumber : http://kesehatan.kompasiana.com/ibu-dan-anak/2010/11/02/genre-bkkbn-versi-reka/
Minggu, 16 Januari 2011
Rasulullah SAW sangat menganjurkan umatnya untuk memiliki keturunan yang banyak. Namun tentunya bukan asal banyak, tetapi berkualitas. Sehingga perlu dididik dengan baik sehingga mengisi alam semesta ini dengan manusia yang shalih dan beriman.
Sejak dari memilih calon isteri, Rasulullah SAW mengisyaratkan untuk mendapatkan isteri yang punya potensi untuk memiliki anak.
Nikahilah wanita yang banyak anaknya karena aku (Rasulullah SAW) berlomba dengan umat lainnya dalam banyaknya umat pada hari qiyamat (HR Ahmad dan Ibnu Hibban).
Namun perintah memilih wanita yang subur sebanding dengan perintah untuk memilih wanita yang shalihah dan baik keIslamannya.
Dunia itu adalah kesenangan dan sebaik-baik kesenangan adalah wanita yang shalihah.
Dalam hadits lain disebutkan:
Wanita itu dinikahi karena empat hal: karena agamanya, nasabnya, hartanya dan kecantikannya. Maka perhatikanlah agamanya kamu akan selamat.
Dalam pandangan Islam, anak merupakan karunia dan rezeki sekaligus yang harus disyukuri dan disiapkan dengan sebaik-baiknya.
Namun hal itu tidak berarti kerja orang tua hanya sekedar memproduksi anak saja. Masih ada kewajiban lainnya terhadap antara lain mendidiknya dan membekalinya dengan beragam ilmu dan hikmah.
Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar. (QS. An-Nisa: 9)
Mengatur Jarak Kelahiran
Selain menganjurkan memperbanyak anak, Islam juga memerintahkan untuk memperhatikan kualitas pendidikan anak itu sendiri. Dan di antara metode untuk mengotimalkan pendidikan anak adalah dengan mengatur jarak kelahiran anak.
Hal ini penting mengingat bila setiap tahun melahirkan anak, akan membuat sang ibu tidak punya kesempatan untuk memberikan perhatian kepada anaknya. Bahkan bukan perhatian yang berkurang, nutrisi dalam bentuk ASI yang sangat dibutuhkan pun akan berkurang. Padahal secara alamiyah, seorang bayi idealnya menyusu kepada ibunya selama dua tahun meski bukan sebuah kewajiban.
Dan Kami perintahkan kepada manusia kepada dua orang ibu-bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. (QS. Luqman: 14)
Inilah motivasi yang paling bisa diterima oleh syariat berkaitan dengan pencegahan sementara atas kehamilan. Sedangkan pencegahan kehamilan karena motivasi karena takut miskin atau takut tidak mendapatkan rezeki akibat persaingan hidup yang semakin ketat, tidak bisa diterima oleh Islam.
Karena ketakutan itu sama sekali tidak berdasar dan hanya hembusan dan syetan atau oang-orang kafir yang tidak punya iman di dalam dada.
Karena jauh sebelum bumi ini dihuni oleh manusia, Allah sudah menyiapkan semua sarana penunjang kehidupan. Hewan dan tumbuhan sudah disiapkan untuk menjadi rezeki bagi manusia. Allah sudah menjamin ketersediaan makanan dan minuman serta semua sarana penunjang kehidupan lainnya di bumi ini.
Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanan nya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata. (QS. Huud: 6)
Dan berapa banyak binatang yang tidak membawa rezkinya sendiri. Allah-lah yang memberi rezki kepadanya dan kepadamu dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. Al-Ankabut: 60)
Sehingga membunuh anak karena motivasi takut lapar dan tidak mendapat rizki adalah perkara yang diharamkan oleh Islam.
Dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan, Kami akan memberi rezki kepadamu dan kepada mereka. (QS. Al-An`am: 151)
Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. Kamilah yang akan memberi rezki kepada mereka dan juga kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang besar. (QS. Al-Isra: 31)
Syarat Dibolehkannnya Penggunaan Alat Pencegah Kehamilan
Secara umum pencegahan kehamilan itu hukum dibolehkan, asal memenuhi dua persyaratan utama:
1. Motivasi
Motivasi yang melatar-belakanginya bukan karena takut tidak mendapat rezeki. Yang dibenarkan adalah mencegah sementara kehamilan untuk mengatur jarak kelahiran itu sendiri.
Atau karena pertimbangan medis berdasarkan penelitian ahli medis berkaitan dengan keselamatan nyawa manusia bila harus mengandung anak. Dalam kasus tertentu, seorangwanita bila hamil bisa membahayakan nyawanya sendiri atau nyawa anak yang dikandungnya. Dengan demikian maka dharar itu harus ditolak.
2. Metode atau alat pencegah kehamilan
Metode pencegah kehamilan serta alat-alat yang digunakan haruslah yang sejalan dengan syariat Islam. Ada metode yang secara langsung pernah dicontohkan langsung oleh Rasulullah SAW dan para shahabat dan ada juga yang memang diserahkan kepada dunia medis dengan syarat tidak melanggar norma dan etika serta prinsip umum ketentuan Islam.
Contoh metode pencegah kehamilan yang pernah dilakukan di zaman Rasulullah SAW adalah ‘azl.
Dari Jabir berkata: “Kami melakukan `azl di masa Nabi saw sedang Al-Qur`an turun.” (HR Bukhari dan Muslim)
Dari Jabir berkata: “Kami melakukan `azl di masa Rasulullah saw, dan Rasul mendengarnya tetapi tidak melarangnya.” (HR Muslim).
Sedangkan metode di zaman ini yang tentunya belum pernah dilakukan di zaman Rasulullah SAW membutuhkan kajian yang mendalam dan melibat para ahli medis dalam menentukan kebolehan atau keharamannya
HAK peserta KB
Apa saja Hak Konsumen KB?
· Hak atas informasi. Hak untuk mengetahui segala manfaat dan keterbatasan pilihan metode perencanaan keluarga.
· Hak akses. Yaitu hak untuk memperoleh pelayanan tanpa membedakan jenis kelamin, agama dan kepercayaan, suku, status sosial, status perkawinan dan lokasi.
· Hak pilihan. Hak untuk memutuskan secara bebas tanpa paksaan dalam memilih dan menerapkan metode KB.
· Hak keamanan. Yaitu hak untuk memperoleh pelayanan yang aman dan efektif.
· Hak privasi. Setiap konsumen KB berhak untuk mendapatkan privasi atau bebas dari gangguan atau campur tangan orang lain dalam konseling dan pelayanan KB.
· Hak kerahasiaan. Hak untuk mendapatkan jaminan bahwa informasi pribadi yang diberikan akan dirahasiakan.
· Hak harkat. Yaitu hak untuk mendapatkan pelayanan secara manusiawi, penuh penghargaan dan perhatian.
· Hak kenyamanan. Setiap konsumen KB berhak untuk memperoleh kenyamanan dalam pelayanan.
· Hak berpendapat. Hak untuk menyatakan pendapat secara bebas terhadap pelayanan yang ditawarkan.
· Hak keberlangsungan. Yaitu hak untuk mendapatkan jaminan ketersediaan metode KB secara lengkap dan pelayanan yang berkesinambungan selama diperlukan.
· Hak ganti rugi. Hak untuk mendapatkan ganti rugi apabila terjadi pelanggaran terhadap hak konsumen.
Apa Itu KB
Keluarga Berencana (KB) adalah istilah yang mungkin sudah lama anda kenal. KB artinya mengatur jumlah anak sesuai kehendak Anda, dan menentukan sendiri kapan Anda ingin hamil. Bila Anda memutuskan untuk tidak segera hamil sesudah menikah, Anda bisa ber-KB.Layanan KB di seluruh Indonesia sudah cukup mudah diperoleh. Ada beberapa metoda pencegahan kehamilan, atau penjarangan kehamilan, atau kontrasepsi, bisa Anda pilih sendiri.
Tak seorang pun boleh memaksa Anda mengikuti program KB. tak seorang pun bisa menggunakan alat KB tertentu bila itu bukan pilihan Anda. Tetapi kalau alat yang Anda pilih bisa membahayakan diri Anda sendiri atau, memperparah penyakit yang sudah anda derita, pekerja kesehatan mungkin menyarankan alat lain yang mungkin lebih aman. Meskipun tidak ada paksaan, bila Anda telah mengerti risiko-risiko yang mengancam kesehatan atau bahkan keselamatan Anda sendiri sehubungan dengan kehamilan dan persalinan, selayaknya Anda mengikuti program KB atas kesadaran sendiri. Bacalah penjelasan di bawah ini.
Manfaat-manfaat KB
Setiap tahun, ada 500.000 perempuan meninggal akibat berbagai masalah yang melingkupi kehamilan, persalinan, dan pengguguran kandungan (aborsi) yang tak aman. KB bisa mencegah sebagian besar kematian itu. Di masa kehamilan umpamanya, KB dapat mencegah munculnya bahaya-bahaya akibat :
Setiap tahun, ada 500.000 perempuan meninggal akibat berbagai masalah yang melingkupi kehamilan, persalinan, dan pengguguran kandungan (aborsi) yang tak aman. KB bisa mencegah sebagian besar kematian itu. Di masa kehamilan umpamanya, KB dapat mencegah munculnya bahaya-bahaya akibat :
Kehamilan terlalu dini
Perempuan yang sudah hamil tatkala umurnya belum mencapai 17 tahun sangat terancam oleh kematian sewaktu persalinan. Mengapa? karena tubuhnya belum sepenihnya tumbuh; belum cukup matang dan siap untuk dilewati oleh bayi. Lagipula, bayinya pun dihadang oleh risiko kematian sebelum usianya mencapai 1 tahun.
Perempuan yang sudah hamil tatkala umurnya belum mencapai 17 tahun sangat terancam oleh kematian sewaktu persalinan. Mengapa? karena tubuhnya belum sepenihnya tumbuh; belum cukup matang dan siap untuk dilewati oleh bayi. Lagipula, bayinya pun dihadang oleh risiko kematian sebelum usianya mencapai 1 tahun.
Kehamilan terlalu “telat”
Perempuan yang usianya sudah terlalu tua untuk mengandung dan melahirkan terancam banyak bahaya. Khususnya bila ia mempunyai problema-problema kesehatan lain, atau sudah terlalu sering hamil dan melahirkan.
Perempuan yang usianya sudah terlalu tua untuk mengandung dan melahirkan terancam banyak bahaya. Khususnya bila ia mempunyai problema-problema kesehatan lain, atau sudah terlalu sering hamil dan melahirkan.
Kehamilan-kehamilan terlalu berdesakan jaraknya
Kehamilan dan persalinan menuntut banyak energi dan kekuatan tubuh perempuan. Kalau ia belum pulih dari satu persalinan tapi sudah hamil lagi, tubuhnya tak sempat memulihkan kebugaran, dan berbagai masalah bahkan juga bahaya kematian, menghadang.
Kehamilan dan persalinan menuntut banyak energi dan kekuatan tubuh perempuan. Kalau ia belum pulih dari satu persalinan tapi sudah hamil lagi, tubuhnya tak sempat memulihkan kebugaran, dan berbagai masalah bahkan juga bahaya kematian, menghadang.
Terlalu sering hamil dan melahirkan
Perempuan yang sudah punya lebih dari 4 anak dihadang bahaya kematian akibat pendarahan hebat dan macam-macam kelainan lain, bila ia terus saja hamil dan bersalin lagi.
Perempuan yang sudah punya lebih dari 4 anak dihadang bahaya kematian akibat pendarahan hebat dan macam-macam kelainan lain, bila ia terus saja hamil dan bersalin lagi.
Jutaan perempuan di seluruh dunia selama ini sudah menggunakan metoda-metoda KB yang kami paparkan dalam halaman-halaman berikutnya. Malahan metoda-metoda itu lebih aman ketimbang hamil dan bersalin.
Bila Anda memilih untuk tetap ber-KB
Sebagian perempuan menginginkan banyak anak – khususnya di tengah-tengah masyarakat-masyarakat yang miskin, tak memperoleh pembagian tanah yang adil, sumberdaya kurang, dan keuntungan social tipis. anak-anak membantu pekerjaan orangtua sehari-hari, dan merawat mereka di usia lanjut. di banyak tempat, jumlah anak yang sedikit dianggap sebagai kemewahan (hanya orangtua yang berkecukupan saja yang mampu mengurangi jumlah anak).
Sebagian perempuan menginginkan banyak anak – khususnya di tengah-tengah masyarakat-masyarakat yang miskin, tak memperoleh pembagian tanah yang adil, sumberdaya kurang, dan keuntungan social tipis. anak-anak membantu pekerjaan orangtua sehari-hari, dan merawat mereka di usia lanjut. di banyak tempat, jumlah anak yang sedikit dianggap sebagai kemewahan (hanya orangtua yang berkecukupan saja yang mampu mengurangi jumlah anak).
Tetapi sebagin perempuan lain menganggap bahwa anyaknya anak justru makin memiskinkan keluarga, dan mempersualit pengentasan nasib mereka. banyak orangtua yang sedih dan menyesal karena kebanyakan anak; tidak mampu memberi mereka penghidupan yang layak; tak mampu menyekolahkan mereka sampai jenjang yang tinggi, dan akibatnya anak-anak mereka itu tak mendapat peluang memperbaiki generasi mereka.
Umumnya perempuan yang menghendaki pembatasan jumlah anak adalah perempuan yang sudah punya kesempatan belajar dan mencari nafkah sendiri, serta statusnya cukup setara dengan laki-laki dalam masyarakatnya.
Yang jelas, tak peduli di manapun (dalam masyarakat apapun) Anda berada, Anda akan lebih sehat, dan melahirkan anak-anak yang jauh lebih sehat, bila Anda memegang kendali atas penentuan berapa banyak anak yang akan anda miliki, dan kapan akan hamil.
Mungkin Anda sudah mengalami sendiri desakan-desakan dari segala penjuru untuk ber-KB atau sebaliknya agar jangan ber-KB. Memang nasihat-nasihat orang lain bisa diambil manfaatnya, tetapi mau ber-KB atau tidak, sepenuhnya adalah keputusan Anda sendiri.
Kalau Anda sudah mengambil keputusan akan ber-KB, kini tiba saatnya memilih metoda yang paling cocok. Agar Anda mampu memilih dengan tepat, Anda harus mempelajari untung-rugi tiap metoda lebih dahulu.
Ada 5 corak metoda KB:
Metoda perintang, yang bekerja dengan cara mengahlangi sperma dari pertemuan dengan sel telur (merintangi pembuahan).
Metoda hormonal, yang mencegah indung telur mengeluarkan sel-sel telur, mempersulit pembuahan, dan menjaga agar dinding-dinding rahim tak menyokong terjadinya kehamilan yang tak dikehendaki.
Metoda yang melibatkan alat-alat yang dimasukkan ke dalam rahim (IUD), gunanya untuk mencegah pembuahan sel telur oleh sperma.
Metoda alamiah, yang membantu Anda mengetahui kapan masa subur Anda, sehingga Anda dapat menghindari hubungan seks pada masa itu.
Metoda permanen, atau metoda yang menjadikan Anda taua pasangan Anda tidak bisa lagi memiliki anak untuk selamanya; lewat suatu operasi.http://www.kesrepro.info/?q=node/165
Langganan:
Postingan (Atom)
